Mungkin banyak orang yang masa lalunya kelam. Pergaulan yang bebas masa sekolah saat ini tidak jarang membuat beberapa gadis ABG tergelincir, bahkan melakukan hubungan intim dengan pacar. Atau mungkin karena musibah yang tidak mengenakkan.
Bagi sebagian perempuan, persoalan ini memang dianggap biasa. Tetapi untuk perempuan yang sudah bertaubat dan menyesali pergaulan bebasnya dulu, maka ketidakperawanannya ini sungguh menjadi tangis penyesalan.
Penyesalan dan kegalaluan itu bahkan sering muncul saat kita menemukan calon suami idaman yang baik, soleh dan menjunjung martabat perempuan. Dia sangat menghormati kehormatan kita. Pertanyaannya, haruskah kita jujur dengan calon suami kita, tentang ketidak perawanan ini?
Dalam Islam, aib masa lalu memang tidak harus diberitahu karena tertutupnya aib merupakan bagian dari kemurahan Allah. Dan pergaulan bebas yang pernah kita lakukan sebenarnya merupakan bagian dari aib yang dapat kita simpan setelah kita bertobat.
Hanya masalahnya, aib ini terkait dengan cacatnya bagian dari tubuh kita (tidak perawan), maka dalam kasus ini ada perbedaan pendapat apakah calon suami harus tahu atau tidak.
Terlepas dari perbedaan dalam pandangan syariat, nampaknya memang tidak mudah memutuskan yang terbaik bagi kita, karena keputusan bersikap jujur atau tidak juga akan tergantung pada pribadi calon kita serta kesiapan kita sendiri.
Tentu tidak mudah bukan membuka aib sendiri? Wajar karena itu bisa berarti mengorbankan harga diri atau harus menerima konsekuensi untuk ditinggalkan orang yang dicintai.
Umumnya, keperawanan memang merupakan hal yang sensitif, namun ada juga orang-orang yang tidak terlalu mempermasalahkannya dan lebih mengutamakan pribadinya.
Jika calon kita merupakan orang yang tidak terlalu menganggap penting masalah ini dan lebih mengutamakan pribadi kita yang sholihat sekarang, maka akan lebih mudah baginya menerima diri kita serta kekhilafan masa lalu.
Namun, memang akan menjadi hal yang sulit jika calon kita itu bukan orang yang dapat mentolerir keadaan tersebut. Dan jika ia baru mengetahui setelah menikah, bukan tidak mungkin akan menjadi masalah yang mengganjal kehidupan rumah tangga tersebut.
Bahkan ada beberapa kasus lamaran dibatalkan saat mengetahui kita tidak perawan lagi. Pada saat itu mungkin kita berteriak dunia ini tidak adil. Jika muncul ketakutan demikian, maka lebih baik kita simpan aib kita dengan bermunajat dan bertobat kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, saran kami ada baiknya kita mencoba untuk menjajagi pasangan kita dalam menyikapi permasalahan keperawanan ini. Hal tersebut dapat disiasati dengan berbincang ringan dan melempar isu yang terkait dengan masalah, misal mendiskusikan resensi film virgin.
Dengan memahami pkitangan calon, kita dapat meraba sejauh mana penerimaannya atas kita. Dari sini, kita juga dapat lebih mempertimbangkan kemungkinan untuk berbicara jujur padanya serta sepahit apa konsekuensi yang mungkin akan diterima.
Apapun keputusan kita nantinya bersiaplah menerima konsekuensi yang mengikutinya sebagai bagian dari ketentuan Allah. Dan ketika ternyata tidak sesuai dengan harapan maka jalanilah dengan kesabaran.
Semoga sikap tawakal dan kesabaran kita atas apa yang mungkin terjadi menjadi amal shalih yang akan mengimbangi dosa akibat kekhilafan yang pernah terjadi. Amin.
Baca Juga
7 Langkah Atasi Nyeri Haid
Tips Mengencangkan Payudara
Tips Menjaga Kesehatan Miss V
Peluang Usaha Bisnis ABE
Bagi sebagian perempuan, persoalan ini memang dianggap biasa. Tetapi untuk perempuan yang sudah bertaubat dan menyesali pergaulan bebasnya dulu, maka ketidakperawanannya ini sungguh menjadi tangis penyesalan.
Penyesalan dan kegalaluan itu bahkan sering muncul saat kita menemukan calon suami idaman yang baik, soleh dan menjunjung martabat perempuan. Dia sangat menghormati kehormatan kita. Pertanyaannya, haruskah kita jujur dengan calon suami kita, tentang ketidak perawanan ini?
Dalam Islam, aib masa lalu memang tidak harus diberitahu karena tertutupnya aib merupakan bagian dari kemurahan Allah. Dan pergaulan bebas yang pernah kita lakukan sebenarnya merupakan bagian dari aib yang dapat kita simpan setelah kita bertobat.
Hanya masalahnya, aib ini terkait dengan cacatnya bagian dari tubuh kita (tidak perawan), maka dalam kasus ini ada perbedaan pendapat apakah calon suami harus tahu atau tidak.
Terlepas dari perbedaan dalam pandangan syariat, nampaknya memang tidak mudah memutuskan yang terbaik bagi kita, karena keputusan bersikap jujur atau tidak juga akan tergantung pada pribadi calon kita serta kesiapan kita sendiri.
Tentu tidak mudah bukan membuka aib sendiri? Wajar karena itu bisa berarti mengorbankan harga diri atau harus menerima konsekuensi untuk ditinggalkan orang yang dicintai.
Umumnya, keperawanan memang merupakan hal yang sensitif, namun ada juga orang-orang yang tidak terlalu mempermasalahkannya dan lebih mengutamakan pribadinya.
Jika calon kita merupakan orang yang tidak terlalu menganggap penting masalah ini dan lebih mengutamakan pribadi kita yang sholihat sekarang, maka akan lebih mudah baginya menerima diri kita serta kekhilafan masa lalu.
Namun, memang akan menjadi hal yang sulit jika calon kita itu bukan orang yang dapat mentolerir keadaan tersebut. Dan jika ia baru mengetahui setelah menikah, bukan tidak mungkin akan menjadi masalah yang mengganjal kehidupan rumah tangga tersebut.
Bahkan ada beberapa kasus lamaran dibatalkan saat mengetahui kita tidak perawan lagi. Pada saat itu mungkin kita berteriak dunia ini tidak adil. Jika muncul ketakutan demikian, maka lebih baik kita simpan aib kita dengan bermunajat dan bertobat kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, saran kami ada baiknya kita mencoba untuk menjajagi pasangan kita dalam menyikapi permasalahan keperawanan ini. Hal tersebut dapat disiasati dengan berbincang ringan dan melempar isu yang terkait dengan masalah, misal mendiskusikan resensi film virgin.
Dengan memahami pkitangan calon, kita dapat meraba sejauh mana penerimaannya atas kita. Dari sini, kita juga dapat lebih mempertimbangkan kemungkinan untuk berbicara jujur padanya serta sepahit apa konsekuensi yang mungkin akan diterima.
Apapun keputusan kita nantinya bersiaplah menerima konsekuensi yang mengikutinya sebagai bagian dari ketentuan Allah. Dan ketika ternyata tidak sesuai dengan harapan maka jalanilah dengan kesabaran.
Semoga sikap tawakal dan kesabaran kita atas apa yang mungkin terjadi menjadi amal shalih yang akan mengimbangi dosa akibat kekhilafan yang pernah terjadi. Amin.
Baca Juga
7 Langkah Atasi Nyeri Haid
Tips Mengencangkan Payudara
Tips Menjaga Kesehatan Miss V
Peluang Usaha Bisnis ABE

Tidak ada komentar:
Posting Komentar